Laman

Senin, 21 November 2011

Manfaat Kopi bagi Kecantikan


Di salon atau tempat perawatan kecantikan lain sekarang menyediakan berbagai perawatan dari bahan alami, seperti buah-buahan, sayur-sayuran bahkan kopi pun dapat digunakan untuk merawat kecantikan. Kopi ternyata memiliki banyak khasit untuk kecantikan kulit. Bubuk hitam tersebut dapat kita balurkan ke seluruh tubuh kita. Ini disebut perawatan scrub atau lulur dengan menggunakan kopi. Perawatan ini jika dilakukan secara teratur maka dapat menghaluskan kulit kita dan juga dapat melangsingkan tubuh.
Perawatannya diantaranya adalah kulit di sikat dengan menggunakan sikat khusus untuk tubuh dan kemudian balurkan kopi ke seluruh tubuh sambil di gosok. Kopi yang digunakan adalah biji kopi murni yang ditumbuk yang butirannya masih terasa kasar pada kulit.
Ada beberapa manfaat dari kopi untuk kecantikan:
1. Bisa menghilangkan bekas jerawat, noda hitam dan flek
2. Memperbaiki sirkulasi darah dan memecah lemak ditubuh yang dapat menimbulkan selulit.
3. Memperbaiki kulit yang rusak dan mengangkat sel kulit mati
4. Dapat menjaga kelembaban kulit
5. Dapat menghilangkan bau badan
6. Menetralkan kulit yang teriritasi dan memberikan nutrisi pada kulit
7. Bisa menghilangkan selulit jika dilakukan secara teratur
sumber: http://www.tips-cantik.com

Senin, 14 November 2011

Rahasia Sukses Orang Jepang

Ramadhan yang lalu (2011) membawa nikmat tersendiri bagi saya. Betapa tidak? Pertama, saya diundang beberapa kali oleh stasiun televisi terkait 7 Keajaiban Rezeki yang kebetulan menjadi buku terlaris dan seminar terbesar di Indonesia sepanjang 2010-2011. Kedua, 7 Keajaiban  Rezeki diseminarkan 3 kali di Hongkong dan 2 kali di Jepang, dengan dukungan penuh dari Dompet Dhuafa. Dan tentu saja, selama di Jepang saya menyempatkan diri untuk jalan-jalan di sejumlah kota. Katakanlah di Tokyo, Chiba, Ibaraki, Tsukuba, Hamamatsu, Yokohama, dan Shizuoka (Gunung Fuji). Nah, selama berada di sana setidaknya ada tiga hikmah pembelajaran yang saya petik. Dan tiga hikmah inilah yang akan saya share kepada Anda. Boleh?
Pertama, keramahan. Jamak diketahui, Tokyo merupakan kota dengan penduduk paling padat sedunia. Lihat saja pusat keramaian di Shibuya, yang kebetulan menjadi lokasi shooting film Hachiko, Too Fast Too Furious (Tokyo Drift), dan Resident Evil terbaru. Di sana, ribuan orang menyeberang jalan setiap menitnya. Benar-benar ribuan. Semuanya bergegas. Namun demikian, mereka tetap menjaga keramahan. Contoh kecil saja, di kereta-kereta mereka masih memberikan prioritas duduk kepada lansia.
Selain itu, mereka juga menghargai pejalan kaki, orang asing, kebersihan, antrian, dan anti-klakson. Walau cenderung individualis khas perkotaan, namun mereka tidak pernah melupakan senyuman dan bungkukan badan ketika berinteraksi. Beberapa kali saya masuk toko dan tidak membeli apapun. Tahu apa yang terjadi? Ternyata si pelayan toko tetap mengantar saya sampai di pintu, membungkukkan badan, dan mengucapkan “Terima kasih banyak,” sambil tersenyum lebar. Ramah kan? Itu tidak jadi membeli lho. Bayangkan, kalau jadi membeli.
Kedua, kejujuran. Bukan cuma paling padat, Tokyo juga kota dengan biaya hidup paling mahal sedunia. Sekadar contoh, untuk menggunakan jasa taksi dari airport Narita ke pusat kota Tokyo, Anda harus merogoh uang hampir Rp 3 juta rupiah! Parkir di pusat kota Tokyo? Hm, jangan ditanya! Per jam bisa habis ratusan ribu rupiah! Saking mahalnya properti di sana, KPR-nya bisa 40 tahun! Kendati dibebani biaya hidup begitu tinggi, anehnya di sana hampir-hampir tidak ada pencurian, penjambretan, dan perampokan.
Bahkan kalau barang Anda tertinggal di suatu tempat, tidak perlu panik. Kembalilah ke tempat tersebut dan ambillah barang Anda. Kemungkinan besar, barang Anda tetap utuh. Lihatlah, betapa jujurnya mereka. Padahal banyak di antara mereka yang tidak beragama. Di KTP mereka saja tidak tercantum agama, karena pemerintah menganggap agama tidak terlalu penting dalam kehidupan bernegara. Kuil terkenal di Meiji-Jingu, Harajuku, hanya menjadi simbol spiritual dan tidak diikat oleh aturan agama tertentu.
Ketiga, harga diri. Jepang adalah negara ulet, jauh dari budaya malas-malasan. Tambahan lagi, mereka punya harga diri, jauh dari budaya meminta-minta. Perlu dicatat, tidak semua orang makmur di sana. Itu sudah fitrah semua negara. Iya kan? Akan tetapi, jangankan meminta-minta, menerima tips saja dianggap memalukan bagi mereka. Baik satpam, janitor, pelayan, atau siapa saja, tidak terbiasa menerima tips. Dalam konteks lain, kerap diberitakan, di sana pejabat-pejabat yang ketahuan korupsi atau sejenisnya, pasti mundur bahkan bunuh diri. Saking malunya! Di Indonesia? Boro-boro mundur. Disuruh mundur saja, masih bersikeras. Boro-boro bunuh diri. Salah-salah, orang lain yang dibunuhnya. Ketahuilah, rezeki berpihak pada mereka yang menjaga harga diri. Seperti yang disinggung di bagian awal buku, inilah mental kaya.
Kembali soal berpuasa di Jepang. Walau saya berpuasa 2 sampai 3 jam lebih lama dibanding di Indonesia, walau saya sama sekali tidak merasakan suasana bulan puasa, walau saya susah sekali mencari tempat sholat dan makanan yang halal, namun semua kendala itu saya anggap ringan. Beneran, ringan. Apalagi setelah saya memetik tiga hikmah di atas. Puasa hendaknya luar biasa. Karena menjadikan kita insan yang lebih jujur dan lebih menjaga harga diri. Itu yang semestinya. Bukankah puasa itu ibadah rahasia dan tidak bisa riya-riyaan? Bukankah puasa itu melatih pengendalian diri bahkan terhadap sesuatu yang halal? Bukankah di bulan puasa digalakkan untuk mengeluarkan sedekah, zakat harta, dan zakat fitrah? Memberi, bukan berharap diberi.
Terakhir, ingatlah. Indonesia merdeka ketika bulan puasa. Fatahillah merebut kembali Sunda Kelapa ketika bulan puasa. Nabi Muhammad memenangkan perang Badar ketika bulan puasa. Bahkan Nabi Muhammad menaklukkan Mekkah ketika bulan puasa. Luar biasa kan? Lha, sudah tahu begitu, apa pantas kita mengisi bulan puasa hanya dengan malas-malasan dan tidur-tiduran? Sungguh, tidak pantas. Tolong dicatat, dalam bulan puasa, kalau diam saja adalah ibadah, apalagi berkata-kata yang baik? Kalau tidur saja ibadah, apalagi bekerja dan bekinerja? Sekali lagi, puasa hendaknya luar biasa! Right?

Tokyo Fashion Week

Jepang Fashion Week 2011

Oleh : Anatasia
Foto : metro.co.uk
Tepat tujuh bulan yang lalu Jepang Fashion Week dibatalkan, dikarenakan musibah tsunami yang menimpa Jepang pada waktu itu. Jepang memfokuskan diri untuk membenahi tata ruang serta lebih mengutamakan kesejahteraan rakyatnya yang banyak terkena dampak tsunami tersebut. Selain itu, tragedi yang tsunami yang terjadi membuat para desainer yang turut andil dalam Jepang Fashion Week tidak bisa memproduksi koleksinya dengan sempurna sehingga mengkhawatirkan koleksi yang akan ditampilkan tidak maksimal.

Kemudian pada bulan Juli kemarin IMG berusaha untuk menyelamatkan Jepang Fashion Week dan pertanggungjawaban terhadap para seponsor yang telah mendukung acara tersebut seperti Maybelline, DSL dan ShopStyle. Dan akhirnya Jepang Fashion Week pun akhirnya bisa dilaksanakan pada hari Minggu lalu.

"Kami mengharapkan fashion week bisa berjalan bersamaan seperti fashion week di negara-negara lain," ungkap Akiko Shinoda, direktur Jepang Fashion Week Organization. Karena keterlambatan Jepang Fashion Week, Jepang melakukan beberapa gebrakan. Desainer Paul Smith dalam pagelaran pertama Jepang Fashion Week, mengeluarkan womenwear dan menswear secara bersamaan.

Label fashion Etw. Vonneguet, yang tadinya direncanakan tampil pada bulan Maret tetap akan tampil pada Jepang Fashion Week, "Saya mengerti dengan situasi yang terjadi, sehingga saya tidak akan menarik kesempatan untuk memamerkan koleksi terbaru walaupun sudah lewat dari tanggal yang ditetapkan"